DI MEJA MAKAN.

“Ibu sudah tidak lapar lagi, kalian makan saja duluan,” katanya seraya menatap kami. Sambil berdiri, ia melirik tajam kepada Ayah. Aku bisa membaca matanya. Antara jengkel, benci dan sedih. Sementara Ayah acuh tak acuh sambil mengambil nasi. Semua terjadi karena Ayah salah menyebut namanya. Hal sepele yang ternyata merambat ke mana-mana.

Itulah perselisihan yang terjadi beberapa bulan ini antara Ayah dan Ibu. Kami memang tidak bisa ikut campur. Belakangan ini Ayah sering bertingkah aneh. Aku pernah melihatnya tertawa sendiri di halaman belakang ketika sedang asik ber-sms ria. Dan sudah tentu bukan aku saja yang merasakan, Ibu juga. Seperti juga keributan-keributan di dalam kamar mereka yang bersebelahan dengan kamarku sudah menjadi santapanku setiap malam.

“Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar rumah. Tapi jangan kau kira aku diam saja!”
“Kenapa jadi curiga begitu, sih!”
“Sudah, jangan mengelak. Siapa pun perempuan yang selalu kau sebut-sebut itu, suatu saat aku pasti tahu.”
“Perempuan yang mana?”
“Jangan berlagak polos!”
“Terserah, aku capek. Aku mau tidur di kamar tamu malam ini.”

Setelah itu hening. Hanya suara pintu kamar yang terdengar dibanting.

Suatu pagi, Ibu memanggil kami berdua setelah Ayah berangkat ke kantor.

“Mel, Anne. Ibu mau bicara.”
“Ada apa, Bu?” jawab kami serentak.
“Hari ini dan seminggu ke depan Ibu ada keperluan sebentar. Kalau perlu apa-apa, telepon saja. Ibu sudah minta tolong pembantu tetangga sebelah untuk siapkan makanan di atas meja. Tolong rahasiakan ini dari Ayahmu, ya?”
“Baik, Bu.”

Aku tahu apa yang sedang Ibu lakukan. Tak ada percakapan di meja makan yang berakhir menyenangkan. Ayah yang latah (atau mungkin sedang puber) dan Ibu si pencemburu. Persis seperti kisah dalam novel yang pernah aku baca. Aku pernah bertanya pada Ibu dari hati ke hati. Kenapa ia begitu penasaran hanya karena Ayah salah menyebut nama? Dengan ringan Ibu menjawab, bahwa kejadian di meja makan adalah puncak dari kekesalannya. Jauh sebelum itu, Ayah sering menyebut nama-nama lain selain nama itu ketika sedang tidur. Bukan hanya menyebut nama saja, tapi juga dibalut kata-kata rayuan. Sontak saja aku kaget mendengarnya. Rupanya inilah alasannya mengapa Ibu mulai ambil tindakan. Permainan kucing-kucingan antara mereka juga mewarnai hari-hari kami setiap pagi. Setiap 10 menit setelah Ayah pergi ke kantor, Ibu menyiapkan diri. Dandan sebentar, lalu menghilang. Pernah pada sore hari ketika aku pulang ke rumah, tanpa sengaja aku melewati kamar Ibu. Pintu kamarnya memang sedikit terbuka, aku pikir mungkin Ibu sudah pulang. Begitu aku masuk ke dalam kamarnya, tak ada siapa-siapa. Di atas meja rias, aku melihat banyak gambar sketsa wajah perempuan dan beberapa foto yang aku perkirakan mereka adalah nama-nama yang sering disebutkan Ayah. Entah dari mana Ibu bisa mendapatkan semua itu. Sepertinya Ibu memang sedang membuntuti kegiatan Ayah selama di luar rumah.

Seminggu kemudian.

Sore hari aku dan Anne sedang asyik bermain di taman komplek, nampak dari kejauhan Ibu memanggil kami untuk segera masuk. Katanya, hari ini ia telah membuat masakan spesial.

“Kalian segera mandi. Sebentar lagi Ayah pulang. Ibu ingin membuat kejutan buat Ayahmu di hari ulang tahunnya kali ini.”
“Wah, pantas saja Ibu kelihatan lebih cantik?”
“Hush! Ayo, cepat mandi sana.”

Di dalam kamar mandi, pikiranku melayang. Sambil berharap semoga tidak ada keributan-keributan lagi seperti yang sudah terjadi beberapa minggu ini. Mungkin dengan cara ini, Ibu berhasil meluluhkan hati Ayah.

Malam itu kami berkumpul di meja makan. Sementara itu Ibu nampak terlihat sibuk menyiapkan masakan di dapur. Ayah, aku dan Anne asyik mengobrol sambil menunggu hidangan. Tak lama kemudian Ibu datang membawa semua masakannya ke atas meja. Termasuk cake kecil dengan dua lilin yang membentuk angka dan gulai ayam kesukaan Ayah. Wajah kami berseri-seri, bukan karena masakan, tapi melihat penampilannya yang begitu anggun dan cantik malam ini. Ayah sampai terkesima. Acara pun dimulai. Ibu tahu Ayah sangat menyukai gulai ayam. Ketika ia letakkan masakan itu di hadapannya, tanpa menunggu lebih lama Ayah langsung menyantapnya.

“Wah, masakanmu enak sekali, Ratih!” katanya. Betapa girangnya Ibu mendengar pujian Ayah. Kami berdua menarik napas lega, artinya tidak ada lagi keributan-keributan setelahnya seperti yang pernah terjadi belakangan ini. Ibu memandang kami dengan bibir tersenyum. Wajahnya nampak bahagia sekaligus haru. Acara di meja makan jadi begitu meriah. Sesekali Ayah melontarkan candaan dan terus memuji kecantikan Ibu dan masakannya dihadapan kami. Wajah Ibu nampak berseri.

“Ibu ke belakang sebentar ya, sayang?” katanya sambil berdiri lalu pergi.

Tak lama kemudian, aku ikut pamit mau ke kamar mandi. Di lorong jalan, sayup aku mendengar suara Ibu asyik berbicara melalui ponsel dengan seseorang. Aku dekati dibalik pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Penasaran.

“Baiklah. Kirim nomor rekeningmu sekarang. Aku tunggu. Pastikan mereka benar-benar jera dan berjanji tak akan mengganggu suamiku lagi. Besok siang kita bicara di tempat biasa.”

Lututku gemetar. Dari celah pintu yang terbuka, aku mengintip Ibu yang sedang sibuk mengutak-atik ponselnya. Nampak beberapa foto di atas meja yang diberi tanda silang.

RT @Harry_Bawole: DI MEJA MAKAN. “Gulai ayam buatanmu enak sekali, Ratih.” Ibu terharu, Ayah tak salah lagi sebut nama.

Kumpulan Fiksimini Bag. VI

image

1. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PANGGILAN MENDADAK. “Ada waktu sebentar? Saya mau bicara,” ujar Ibu Direktur. “Tentang perceraian kita?”

2. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: GENTAR. Massa mulai bergerak maju. “Kenapa diam saja?” | “Para perempuan di barisan depan itu ibu kami.”

3. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: KORAN PAGI • Usai membaca, ayah meletakkannya di atas meja. “Sial! Pembunuh kita belum tertangkap, Bu.”

4. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: USAI MENGERJAKAN PR. “Sudah boleh bermain, Bu?” | “Silakan.” Melalui jendela, kami berlarian di atas awan.

5. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PASAR MODAL MULAI MENGGELIAT. Papan angka itu miring sebelah.

6. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PESAN IBU. “Biasakan bilang permisi kalau lewat di depan tamu, Nak. Ibu tak mau lagi ada yang hilang.”

7. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PENUNJUK JALAN. “Di perempatan, langsung belok kiri”. Usai menyampaikan pesan, perempuan itu membuka pahanya.

8. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: LULUH. Umpan ibu dengan sepiring nasi goreng telur akhirnya membuahkan hasil, adik mau keluar dari tubuhku.

9. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: BEBAS TUGAS. “Akhirnya bisa kembali ke dunia nyata,” ujar Menkominfo lega.

10. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: 10 TAHUN BERLALU. Tatapan mata ibu selalu ke langit. Sejak pamor ayah meroket, ia tak pernah pulang.

11. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TERBONGKAR. Di depan wartawan, Polisi itu memajang barang bukti kejahatan tersangka. Termasuk kepalanya.

12. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: KAGET. “Sejak kapan kakakmu mendadak jadi tuli?” | “Tadi siang, Bu. Waktu disapa mantannya.”

13. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TERSESAT. Di simpang jalan, aku dan kompas saling berdebat.

14. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: DESEMBER KEDUA. Boneka salju itu masih juga kedinginan.

15. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: 1000 CANDI. “Ayo Bandung Bondowoso, kamu pasti bisa!” ujar Roro Jonggrang sambil mengikat mulut ayam jantan.

16. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: PENASARAN. Ku tunggu martabak keliling itu di tikungan. Aku kenal betul wajahnya, saat malam pertama kami.

17. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: SETELAH SEPULUH TAHUN BERPISAH. Akhirnya, aku dan ibu bertemu dengan adik dan bapak di pembagian angpau.

18. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: ACARA DOA SEMALAM SUNTUK. Di teras, kami berjaga-jaga. Saling curiga.

19. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: TIM MAWAR BELUM KEMBALI. Sang Komandan gelisah, ketika melihat gadis cilik itu menggenggam seikat bunga.

20. @fiksimini: RT @Harry_Bawole: RAYUAN MANIS. Gadis itu terpukau, puluhan mawar berterbangan keluar dari dalam mulut kekasihnya.

PERTEMUAN TERAKHIR.

Kau tahu, sayang? Jauh sebelum kita saling menjatuhkan cinta, aku telah lama menetap dalam ingatanmu. Kutelusuri jejak-jejak yang kau rekam pada setiap moment pulang dan pergi, yang kau sembunyikan dari sepasang lambaian tanganmu. Dan aku semakin paham, perpisahan bagimu hanyalah bayang-bayang, sembunyi dibalik kesedihan.

Menuliskan ini, aku jadi teringat pada sebuah buku puisi yang pernah aku baca. Bukan hanya karena isi buku itu menarik, juga judulnya. “Ciuman Yang Menyelamatkan Dari Kesedihan”. Indah, bukan? Sama seperti yang kita lakukan ketika saling melabuhkan ciuman seminggu yang lalu, pada malam-malam basah, di salah satu sudut kafe yang memutarkan lagu-lagu jazz kesayangan. Dan yang ku ingat, waktu itu kau tersenyum, aku jadi salah tingkah. Sejak saat itu kita sepakat untuk tidak melakukannya lagi.

Seperti pagi ini, entah apa yang merasuki dalam pikiranku, hal-hal sederhana seperti ciuman ternyata bukan saja membuat kita lupa diri, tapi juga sebagai tamparan telak. Ternyata, kita masih saja dibodohi oleh perasaan lama. Perasaan yang seharusnya kita kubur dalam-dalam. Maaf jika aku telah menyeretmu ke dalam khilaf yang sama.

Aku paham pesan terakhir yang kau ucapkan sebelum kita pulang. Sebelum kita kembali ke keluarga kita masing-masing.

Kalimat terakhir yang kau sampaikan akan selalu membekas dalam ingatanku. “Perpisahan hanyalah bayang-bayang, kerap sembunyi dibalik kesedihan.”

#30HariMenulisSuratCinta

Kumpulan Cerita Dalam Satu Paragraf.

LUPA.

Aku kenal betul bagaimana karakter kedua orangtuaku. Walaupun mereka sering bertengkar, tapi mereka cepat rujuk kembali. Pernah pada suatu hari ketika kami berada di dalam pesawat, Ayah dan Ibu bertengkar hebat. Waktu itu aku sedang membaca buku dan pesawat sudah mengudara. Tentu saja aku malu melihat kelakuan mereka. “Dasar keras kepala! Ya sudah, aku keluar saja!” bentak Ayah langsung membuka pintu pesawat. Sontak kejadian itu membuat para penumpang menjerit seketika. “Kenapa Ibu biarkan Ayah keluar dari pesawat?” tanyaku marah. “Selain pikun, ini bukan pertama kalinya Ayahmu melakukan itu, Nak” jawabnya enteng.

SENJA DI TERAS KAFE.

Bagi beberapa orang, termasuk aku, mungkin spot paling nyaman untuk kencan bagi sepasang kekasih adalah di tempat ini. Sebuah kafe mungil yang tidak terlalu megah namun menyuguhkan nuansa indah alam pemandangan. Ada juga beberapa gazebo dengan motif unik berdiri anggun tidak jauh dari tempat yang aku duduki. Ya, sore ini aku memang sedang santai di sini. Sambil menunggu kekasihku datang, aku iseng membuka ponselku. Barangkali ada email yang masuk atau sekedar menyapa di media sosial. Tapi tunggu dulu, tujuanku ke sini bukan untuk berasyik masyuk seperti beberapa pasangan kekasih di tempat ini. Tujuanku ke sini karena ada hal penting yang ingin aku tanyakan. Hal yang sangat mengganggu pikiranku. Semoga saja kekasihku bisa memberikan penjelasan dengan baik. Karena aku pikir ini adalah moment yang pas usai kita berdua pergi liburan dengan memanjat tebing paling menantang dan cukup tinggi. Waktu itu, ketika kami sampai di puncak, dengan sengaja dia mendorongku dari belakang.

NOSTALGIA.

Dalam seminggu ini sudah tiga kali rumahku kebobolan maling. Anehnya, tidak ada benda-benda berharga yang berhasil dijarah. Hanya buku, majalah dan koran berhamburan di seluruh penjuru ruang tamu. Itu belum termasuk di meja makan dan dapur. Yang membuat aku semakin penasaran sekaligus bingung adalah sikap kedua orangtuaku, terlebih Ibuku. Terlihat cuek. Memang, waktu kejadian pertama kali Ibu sempat panik dan bingung. Tapi setelah beberapa hari kemudian, Ibu seakan tidak mau ambil pusing. Mungkin selama tidak ada barang berharga yang hilang, pikirnya. “Jangan-jangan pelakunya orang dalam rumahku sendiri. Ya, Parman! Tukang kebunku. Tapi, mana mungkin?” batinku. Hingga pada suatu ketika aku mendengar suara ponsel Ibu berdering di atas ranjang. Sebuah SMS masuk. Karena penasaran dan kebetulan Ibu sedang ke warung, segera aku buka sms itu. “Bu, nanti malam pintu belakang dan jendela jangan dikunci, ya. Paham, kan maksud Ayah?”.

Hujan Dan Malam.

Ada deretan kisah yang hendak kau ceritakan pada matamu yang bianglala. Sementara hujan mampu hapuskan jejak dan luka diantara barisan kata.
Pada musim yang kini berganti,
Lantas jiwamu tenggelam dalam kalut.

Mungkin bukan luka.
Hanya sepotong malam yang membuka tabir raut wajahmu, merah merona.
Tiba-tiba aku menjadi asing di matamu.

Dalam rintiknya hujan, aku mencoba menghapal satu demi satu nada yang terdengar.
Tapi sulit menerjemahkan asa.
Seperti menulis diatas air.
Hilang
Tak berbekas.

Surabaya, 2012.

Kepada Perempuan Yang Kusebut Ibu.

Di matamu, tersimpan cahaya yang kilaunya serupa permata. Ketika telaga dalam ruang dadamu, memecah sunyi yang kerap hadir menjalari tubuh gersangku. Pada bibirmu masih tersimpan kata-kata mistis, menjelma ribuan jarum atau percikan dahaga atas kemarau yang menggila dalam lamunanku.

Kantung kelopak matamu sebagai pertanda perjalanan hidup, pelan-pelan menyusup ke dalam rongga jiwa. Kaukah itu? Dengan panjang sabar masih setia pada satu jiwa meski tiada?

Ajari aku menghitung denting waktu pada dinding-dinding kesetiaan. Ketika lelah gelayuti jiwa, perlahan mengikis batas cemas dalam senyum terkulum.

Kepada perempuan yang kusebut Ibu,

Warnamu tak pernah pudar oleh rimba usia, meski musim sering bercumbu dikerutan wajah, meninggalkan bekas serupa peta. Entah apalagi yang tertanam di tanganmu ketika menggenggam jarak, lalu pelan-pelan kau tulis sebait puisi di kedalaman jiwa.

Kelak, tak ada ingatan seteduh matamu.